{
  "success": true,
  "data": {
    "filename": "sna.json",
    "content": {
      "nodes": [
        {
          "key": "_Bedmen",
          "attributes": {
            "label": "_Bedmen",
            "x": 847.3858691173996,
            "y": 388.52953370980805,
            "size": 3.0,
            "color": "#B3B6C6",
            "sentiment": "netral",
            "labels": [
              "tweet-000004"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 31.4137,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 0,
              "out_degree": 1,
              "degree": 1
            },
            "_id": "2089887286330806374",
            "id": "_Bedmen",
            "source": "tweet-000004",
            "content": "Aceh -> gas, minyak, emas, batubara\nPancasila -> konflik Aceh sekitar 15,000 korban jiwa\n\nAceh 4:-1 Pancasila",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1787102931000,
            "hashtags": []
          }
        },
        {
          "key": "keluhkesahkonoh",
          "attributes": {
            "label": "keluhkesahkonoh",
            "x": 647.3716340229727,
            "y": 651.8203363741485,
            "size": 3.0,
            "color": "#B3B6C6",
            "sentiment": "netral",
            "labels": [
              "tweet-000004"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 58.1154,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 1,
              "out_degree": 0,
              "degree": 1
            },
            "_id": "2089887286330806374",
            "id": "keluhkesahkonoh",
            "source": "tweet-000004",
            "content": "Aceh -> gas, minyak, emas, batubara\nPancasila -> konflik Aceh sekitar 15,000 korban jiwa\n\nAceh 4:-1 Pancasila",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1787102931000,
            "hashtags": []
          }
        },
        {
          "key": "modusaceh",
          "attributes": {
            "label": "modusaceh",
            "x": 291.4420343448099,
            "y": 982.2386344605333,
            "size": 3.0,
            "color": "#ED3E3E",
            "sentiment": "negatif",
            "labels": [
              "instagram-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 209.4237,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 1,
              "out_degree": 1,
              "degree": 2
            },
            "_id": "3962125584047282001_3556192377",
            "id": "modusaceh",
            "source": "instagram-000001",
            "content": "MODUSACEH.CO, Banda Aceh | Siang itu Rabu, 12 Agustus 2026. Lobi Kantor Gubernur Aceh terlihat ramai dari biasanya. Sekelompok orang yang mengatas namakan masyarakat dan mahasiswa Aceh, datang ingin berdialog langsung bersama pemerintah Aceh, khususnya Gubernur Muzakir Manaf atau Mualem.\n\nMereka membawa dua persoalan besar.Pertama, soal reparasi korban konflik Aceh yang hingga kini dinilai belum maksimal. Kedua, soal pemulihan korban banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025 lalu.\n\nPertemuan itu menjadi semakin menarik karena berlangsung hanya tiga hari menjelang peringatan 21 tahun perdamaian Aceh yang jatuh pada 15 Agustus mendatang.\n\nDi tengah dialog, mereka membawa sejumlah gambar dan informasi mengenai korban konflik yang hingga hari ini diduga belum diketahui keberadaannya.\n\nBagi mereka, 21 tahun perdamaian seharusnya bukan hanya menjadi angka yang diperingati setiap tahun, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana korban konflik mendapatkan hak pemulihan.\n\nSalah satu nama yang mereka bawa adalah Karimudin, warga Aceh Utara yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan umum atau labi-labi. Karimudin dilaporkan hilang pada 2001 ketika hendak memenuhi undangan peusijuk di Kandang, Kota Lhokseumawe.\n\nLink berita selengkapnya ada di bio profil \n\n#modusaceh #berita #beritaaceh #beritanasional",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1786542214000,
            "hashtags": [
              "#modusaceh",
              "#berita",
              "#beritaaceh",
              "#beritanasional"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "suaragarut.id",
          "attributes": {
            "label": "suaragarut.id",
            "x": 952.7547693828614,
            "y": 947.1654268882586,
            "size": 3.0,
            "color": "#3EC764",
            "sentiment": "positif",
            "labels": [
              "instagram-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 209.4237,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 1,
              "out_degree": 1,
              "degree": 2
            },
            "_id": "3968415407295006647_35619913485",
            "id": "suaragarut.id",
            "source": "instagram-000001",
            "content": "Menurut SBY, pemerintah ketika itu memilih jalur dialog sebagai upaya menyelesaikan konflik tanpa mengorbankan kedaulatan maupun integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).\n\nUpaya tersebut kemudian membuahkan hasil dengan ditandatanganinya Perjanjian Damai Helsinki pada 15 Agustus 2005.\n\nDari pengalaman tersebut, SBY menilai keberanian mempertahankan kepentingan yang sah harus berjalan beriringan dengan keterbukaan dan kemampuan memahami kekhawatiran pihak lain.\n\n\"Pelajaran yang saya ambil dari Aceh sangatlah sederhana: Perdamaian menjadi mungkin ketika pihak-pihak yang terlibat memiliki keberanian untuk mempertahankan kepentingan mereka yang sah sekaligus memiliki kearifan untuk memaklumi kekhawatiran pihak lain,\" ujar SBY.\n\nSBY juga mengingatkan agar pengalaman dan luka masa lalu tidak menjadi penghalang bagi sebuah bangsa dalam membangun masa depan.\n\nMenurutnya, menciptakan perdamaian bukan berarti menghapus sejarah, tetapi memastikan pengalaman kelam tidak terus membelenggu generasi berikutnya.\n\n\"Perdamaian tidak menuntut kita untuk melupakan sejarah, tetapi menuntut kita untuk mencegah sejarah memenjarakan masa depan secara permanen,\" tambahnya.\n\nPengalaman Indonesia dalam menyelesaikan konflik Aceh kemudian dikaitkan SBY dengan dinamika geopolitik global. Ia menilai diplomasi harus dilakukan secara aktif sebelum sebuah konflik berkembang menjadi kehancuran yang lebih besar.\n\nSBY meminta masyarakat internasional tidak memandang dialog dan kompromi sebagai tanda kelemahan atau kekalahan.\n\n\"Dialog tidak boleh dianggap sebagai kelemahan. Kompromi bukanlah penyerahan diri apabila ia menghasilkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Dan diplomasi harus dimulai sebelum terjadinya kehancuran, bukan setelahnya,\" ujar SBY.\n\n__\n\nSumber \nhttps://www.pikiran-rakyat.com/news/pr-0110402753/sby-ungkap-pengalaman-selesaikan-konflik-aceh-pelajaran-penting-untuk-diplomasi-global\nDM for copyright or removal\n\n[Baca berita dan informasi menarik lainnya hanya di https://suaragarut.id/]\n\nFollow akun  untuk informasi dan konten menarik lainnya\n\n----\n\n#newsupdate #infoupdate #suaragarutid #sby #konflikaceh",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1787292002000,
            "hashtags": [
              "#newsupdate",
              "#infoupdate",
              "#suaragarutid",
              "#sby",
              "#konflikaceh"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "natathekongkow",
          "attributes": {
            "label": "natathekongkow",
            "x": 881.1721393775167,
            "y": 120.13171313643345,
            "size": 15.0,
            "color": "#3EC764",
            "sentiment": "positif",
            "labels": [
              "tiktok-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 31.4137,
              "eigenvector": 333.3333,
              "in_degree": 0,
              "out_degree": 2,
              "degree": 2
            },
            "_id": "7672776392253246738",
            "id": "natathekongkow",
            "source": "tiktok-000001",
            "content": "Merawat ingatan tentang konflik Aceh sejatinya bukan untuk membangkitkan luka apalagi memupuk dendam. Tapi menjadi peringatan bahwa segala bentuk konflik dan kekerasan tidak boleh terulang kembali. Sebagai generasi muda, kita punya tugas lanjutan menjaga apa yang telah pendahulu kita perjuangkan. Perdamaian yang telah dicapai dengan sejarah panjang wajib kita jaga, agar perjuangan indatu kita tidak sia-sia serta untuk menjamin bahwa generasi Aceh sekarang bisa hidup tenang dan bebas merangkai masa depannya tanpa rasa takut dan tekanan. Mari rawat perdamaian Aceh, untuk generasi Aceh yang lebih hebat.   Samudera Pasee   Yaya  #AcehDamai2026  #21TahunPerdamaianAceh  #MoUHelsinki  #AcehDamai #ShortVideoCompetition",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1786457470000,
            "hashtags": [
              "#acehdamai2026",
              "#21tahunperdamaianaceh",
              "#mouhelsinki",
              "#acehdamai",
              "#shortvideocompetition"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "Kpa",
          "attributes": {
            "label": "Kpa",
            "x": 635.9683561306933,
            "y": 785.2122643839031,
            "size": 15.0,
            "color": "#3EC764",
            "sentiment": "positif",
            "labels": [
              "tiktok-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 44.7645,
              "eigenvector": 333.3333,
              "in_degree": 1,
              "out_degree": 0,
              "degree": 1
            },
            "_id": "7672776392253246738",
            "id": "Kpa",
            "source": "tiktok-000001",
            "content": "Merawat ingatan tentang konflik Aceh sejatinya bukan untuk membangkitkan luka apalagi memupuk dendam. Tapi menjadi peringatan bahwa segala bentuk konflik dan kekerasan tidak boleh terulang kembali. Sebagai generasi muda, kita punya tugas lanjutan menjaga apa yang telah pendahulu kita perjuangkan. Perdamaian yang telah dicapai dengan sejarah panjang wajib kita jaga, agar perjuangan indatu kita tidak sia-sia serta untuk menjamin bahwa generasi Aceh sekarang bisa hidup tenang dan bebas merangkai masa depannya tanpa rasa takut dan tekanan. Mari rawat perdamaian Aceh, untuk generasi Aceh yang lebih hebat.   Samudera Pasee   Yaya  #AcehDamai2026  #21TahunPerdamaianAceh  #MoUHelsinki  #AcehDamai #ShortVideoCompetition",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1786457470000,
            "hashtags": [
              "#acehdamai2026",
              "#21tahunperdamaianaceh",
              "#mouhelsinki",
              "#acehdamai",
              "#shortvideocompetition"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "Pon",
          "attributes": {
            "label": "Pon",
            "x": 605.8511449262995,
            "y": 452.71431696139865,
            "size": 15.0,
            "color": "#3EC764",
            "sentiment": "positif",
            "labels": [
              "tiktok-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 44.7645,
              "eigenvector": 333.3333,
              "in_degree": 1,
              "out_degree": 0,
              "degree": 1
            },
            "_id": "7672776392253246738",
            "id": "Pon",
            "source": "tiktok-000001",
            "content": "Merawat ingatan tentang konflik Aceh sejatinya bukan untuk membangkitkan luka apalagi memupuk dendam. Tapi menjadi peringatan bahwa segala bentuk konflik dan kekerasan tidak boleh terulang kembali. Sebagai generasi muda, kita punya tugas lanjutan menjaga apa yang telah pendahulu kita perjuangkan. Perdamaian yang telah dicapai dengan sejarah panjang wajib kita jaga, agar perjuangan indatu kita tidak sia-sia serta untuk menjamin bahwa generasi Aceh sekarang bisa hidup tenang dan bebas merangkai masa depannya tanpa rasa takut dan tekanan. Mari rawat perdamaian Aceh, untuk generasi Aceh yang lebih hebat.   Samudera Pasee   Yaya  #AcehDamai2026  #21TahunPerdamaianAceh  #MoUHelsinki  #AcehDamai #ShortVideoCompetition",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1786457470000,
            "hashtags": [
              "#acehdamai2026",
              "#21tahunperdamaianaceh",
              "#mouhelsinki",
              "#acehdamai",
              "#shortvideocompetition"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "beritaaceh__",
          "attributes": {
            "label": "beritaaceh__",
            "x": 883.4810344366679,
            "y": 786.3014351537487,
            "size": 3.0,
            "color": "#3EC764",
            "sentiment": "positif",
            "labels": [
              "tiktok-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 31.4137,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 0,
              "out_degree": 1,
              "degree": 1
            },
            "_id": "7675242066527456519",
            "id": "beritaaceh__",
            "source": "tiktok-000001",
            "content": "ACEH TIMUR – Nurdin Ismail alias Din Minimi bersama sejumlah mantan kombatan menggelar upacara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gampong Ladang Baro, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, Senin (17/8/2026). Upacara tersebut turut dihadiri masyarakat setempat, unsur TNI-Polri dan perangkat gampong. Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama serta pemberian santunan kepada 63 anak yatim. Dikonfirmasi Serambinews.com, Din Minimi berharap Indonesia yang telah merdeka terus menjadi negara yang berdaulat, adil dan makmur. Pelaksanaan upacara bersama para eks kombatan itu juga menjadi penegasan mengenai posisi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara setelah perjalanan panjang konflik Aceh. “Kami melakukan upacara di Ladang Baro. Kami masih di bawah NKRI,” tegasnya. Profil Singkat Din Minimi Nama Din Minimi mencuat dalam dinamika keamanan Aceh pada pertengahan dekade 2010-an.  Nurdin Ismail merupakan mantan kombatan GAM yang kemudian memimpin kelompok bersenjata di Aceh Timur setelah konflik bersenjata Aceh berakhir melalui perdamaian Helsinki pada 2005. Kelompok Din Minimi ketika itu menjadi perhatian pemerintah dan aparat keamanan karena kembali mengangkat senjata dan menyampaikan sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kondisi mantan kombatan serta masyarakat korban konflik. SUMBER : SERAMBINEWA SPONSOR :  murah (TM)  #beritaaceh  #serambinews  #dinminimi  #acehtimur  #hurke81ri",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1787031563000,
            "hashtags": [
              "#beritaaceh",
              "#serambinews",
              "#dinminimi",
              "#acehtimur",
              "#hurke81ri"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "Toko",
          "attributes": {
            "label": "Toko",
            "x": 121.79490578854058,
            "y": 358.9311274779152,
            "size": 3.0,
            "color": "#3EC764",
            "sentiment": "positif",
            "labels": [
              "tiktok-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 58.1154,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 1,
              "out_degree": 0,
              "degree": 1
            },
            "_id": "7675242066527456519",
            "id": "Toko",
            "source": "tiktok-000001",
            "content": "ACEH TIMUR – Nurdin Ismail alias Din Minimi bersama sejumlah mantan kombatan menggelar upacara memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gampong Ladang Baro, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, Senin (17/8/2026). Upacara tersebut turut dihadiri masyarakat setempat, unsur TNI-Polri dan perangkat gampong. Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama serta pemberian santunan kepada 63 anak yatim. Dikonfirmasi Serambinews.com, Din Minimi berharap Indonesia yang telah merdeka terus menjadi negara yang berdaulat, adil dan makmur. Pelaksanaan upacara bersama para eks kombatan itu juga menjadi penegasan mengenai posisi mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara setelah perjalanan panjang konflik Aceh. “Kami melakukan upacara di Ladang Baro. Kami masih di bawah NKRI,” tegasnya. Profil Singkat Din Minimi Nama Din Minimi mencuat dalam dinamika keamanan Aceh pada pertengahan dekade 2010-an.  Nurdin Ismail merupakan mantan kombatan GAM yang kemudian memimpin kelompok bersenjata di Aceh Timur setelah konflik bersenjata Aceh berakhir melalui perdamaian Helsinki pada 2005. Kelompok Din Minimi ketika itu menjadi perhatian pemerintah dan aparat keamanan karena kembali mengangkat senjata dan menyampaikan sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kondisi mantan kombatan serta masyarakat korban konflik. SUMBER : SERAMBINEWA SPONSOR :  murah (TM)  #beritaaceh  #serambinews  #dinminimi  #acehtimur  #hurke81ri",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1787031563000,
            "hashtags": [
              "#beritaaceh",
              "#serambinews",
              "#dinminimi",
              "#acehtimur",
              "#hurke81ri"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "sagoetv",
          "attributes": {
            "label": "sagoetv",
            "x": 929.3387908389977,
            "y": 587.1870690723865,
            "size": 3.0,
            "color": "#B3B6C6",
            "sentiment": "netral",
            "labels": [
              "tiktok-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 209.4237,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 1,
              "out_degree": 1,
              "degree": 2
            },
            "_id": "7670827184457534741",
            "id": "sagoetv",
            "source": "tiktok-000001",
            "content": "Cerita Yusril Bertemu Ulama Saat Konflik Aceh Follow us:  #YusrilIhzaMahendra #RahasiaAceh #GusDur #SejarahIndonesia #AcehNKRI",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1786003635000,
            "hashtags": [
              "#yusrilihzamahendra",
              "#rahasiaaceh",
              "#gusdur",
              "#sejarahindonesia",
              "#acehnkri"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "azkiyaasyraf",
          "attributes": {
            "label": "azkiyaasyraf",
            "x": 317.80160706071547,
            "y": 439.8779966444889,
            "size": 3.0,
            "color": "#ED3E3E",
            "sentiment": "negatif",
            "labels": [
              "tiktok-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 31.4137,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 0,
              "out_degree": 3,
              "degree": 3
            },
            "_id": "7537336329756003590",
            "id": "azkiyaasyraf",
            "source": "tiktok-000001",
            "content": "biar dunia tau betapa kejamnya oknum tentara pada masa konflik aceh#konflik #konflik #tentaraindonesia #tentara #fypシ゚viral  #pt  #foryoupage  Alam Liar  Alam Liar 2  Alam Liar 3",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1754922876000,
            "hashtags": [
              "#konflik",
              "#konflik",
              "#tentaraindonesia",
              "#tentara",
              "#fyp",
              "#pt",
              "#foryoupage"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "Misteri",
          "attributes": {
            "label": "Misteri",
            "x": 167.8193131168655,
            "y": 952.0737198020402,
            "size": 3.0,
            "color": "#ED3E3E",
            "sentiment": "negatif",
            "labels": [
              "tiktok-000001"
            ],
            "scores": {
              "pagerank": 40.3142,
              "eigenvector": 0.0,
              "in_degree": 3,
              "out_degree": 0,
              "degree": 3
            },
            "_id": "7537336329756003590",
            "id": "Misteri",
            "source": "tiktok-000001",
            "content": "biar dunia tau betapa kejamnya oknum tentara pada masa konflik aceh#konflik #konflik #tentaraindonesia #tentara #fypシ゚viral  #pt  #foryoupage  Alam Liar  Alam Liar 2  Alam Liar 3",
            "post_id": "",
            "timestamp": 1754922876000,
            "hashtags": [
              "#konflik",
              "#konflik",
              "#tentaraindonesia",
              "#tentara",
              "#fyp",
              "#pt",
              "#foryoupage"
            ]
          }
        }
      ],
      "edges": [
        {
          "key": "_Bedmen",
          "source": "_Bedmen",
          "target": "keluhkesahkonoh",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "tweet-000004",
            "timestamp": 1787102931000,
            "hashtags": []
          }
        },
        {
          "key": "modusaceh",
          "source": "modusaceh",
          "target": "modusaceh",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "instagram-000001",
            "timestamp": 1786542214000,
            "hashtags": [
              "#modusaceh",
              "#berita",
              "#beritaaceh",
              "#beritanasional"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "suaragarut.id",
          "source": "suaragarut.id",
          "target": "suaragarut.id",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "instagram-000001",
            "timestamp": 1787292002000,
            "hashtags": [
              "#newsupdate",
              "#infoupdate",
              "#suaragarutid",
              "#sby",
              "#konflikaceh"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "natathekongkow",
          "source": "natathekongkow",
          "target": "Kpa",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "tiktok-000001",
            "timestamp": 1786457470000,
            "hashtags": [
              "#acehdamai2026",
              "#21tahunperdamaianaceh",
              "#mouhelsinki",
              "#acehdamai",
              "#shortvideocompetition"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "natathekongkow",
          "source": "natathekongkow",
          "target": "Pon",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "tiktok-000001",
            "timestamp": 1786457470000,
            "hashtags": [
              "#acehdamai2026",
              "#21tahunperdamaianaceh",
              "#mouhelsinki",
              "#acehdamai",
              "#shortvideocompetition"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "beritaaceh__",
          "source": "beritaaceh__",
          "target": "Toko",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "tiktok-000001",
            "timestamp": 1787031563000,
            "hashtags": [
              "#beritaaceh",
              "#serambinews",
              "#dinminimi",
              "#acehtimur",
              "#hurke81ri"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "sagoetv",
          "source": "sagoetv",
          "target": "sagoetv",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "tiktok-000001",
            "timestamp": 1786003635000,
            "hashtags": [
              "#yusrilihzamahendra",
              "#rahasiaaceh",
              "#gusdur",
              "#sejarahindonesia",
              "#acehnkri"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "azkiyaasyraf",
          "source": "azkiyaasyraf",
          "target": "Misteri",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "tiktok-000001",
            "timestamp": 1754922876000,
            "hashtags": [
              "#konflik",
              "#konflik",
              "#tentaraindonesia",
              "#tentara",
              "#fyp",
              "#pt",
              "#foryoupage"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "azkiyaasyraf",
          "source": "azkiyaasyraf",
          "target": "Misteri",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "tiktok-000001",
            "timestamp": 1754922876000,
            "hashtags": [
              "#konflik",
              "#konflik",
              "#tentaraindonesia",
              "#tentara",
              "#fyp",
              "#pt",
              "#foryoupage"
            ]
          }
        },
        {
          "key": "azkiyaasyraf",
          "source": "azkiyaasyraf",
          "target": "Misteri",
          "attributes": {
            "label": "mention",
            "type": "mention",
            "source": "tiktok-000001",
            "timestamp": 1754922876000,
            "hashtags": [
              "#konflik",
              "#konflik",
              "#tentaraindonesia",
              "#tentara",
              "#fyp",
              "#pt",
              "#foryoupage"
            ]
          }
        }
      ]
    }
  }
}